Minggu, 02 November 2008

Kebutuhan bahan makanan

Kebutuhan bahan makanan asal hewan baik yang berasal dari daging maupun telur ayam ras semakin meningkat Hal ini karena pemenuhan gizi, khususnya protein hewani, juga semakin meningkat. Salah satu upaya untuk mencukupi kebutuhan protein hewani adalah melalui peternakan unggas, karena ternak unggas mempunyai keunggulan komparatif dibanding dengan ternak lainnya. Namun kenyataan yang ada hasil ternak unggas terutama daging masih berkualitas rendah.
Pemberian pakan ayam pedaging saat ini hanyak dilakukan secara ad /ibitum. Pemberian pakan dengan pola demikian akan membuat ayam makan setiap saat tanpa pernah mengalami lapar, sehingga pertumbuhan dan kandungan lemak dagingnya sangat tinggi. Pola pakan tersebut di atas sampai saat ini masih dipertahankan karena peternak selalu mengejar pertumbuhan cepat dengan waktu panen pendek dan berat badan tinggi tanpa mempedulikan kualitas daging yang dihasilkan.

Pembatasan pakan dapat dilakukan dengan jalan pembatasan waktu dan jumlah pakan yang diberikan. Pembatasan pakan pada ayam dapat memperbaiki efesiensi penggunaan pakan sehingga konversi pakan menjadi lebih rendah dibandingkan dengan pemberian pakan secara ad libitum_ Pembatasan pakan 5-15
dari pakan standar tidak akan mempengaruhi performance ayam dan tidak mengubah berat badan akhir saat pemotongan.
Bila dilihat hubungan antara sekresi growth hormone (GH) dengan pembatasan waktu dan jumlah pemberian pakan ada kemungkinan untuk menghasilkan daging yang berkadar lemak rendah dan berkadar protein tinggi. Pembatasan waktu dan jumlah pemberian pakan yang tepat diharapkan terjadi peningkatan sekresi GH sehingga akan diikuti peningkatan efek metabolik pada seluruh jaringan tubuh. Efek metabolik GH meliputi peningkatan kecepatan

sintesis protein di seluruh tubuh, peningkatan pangangkutan asam lemak dari jaringan lemak, peningkatan penggunaan asam lemak sebagai sumber energi dan menghemat karbohidrat.
Peningkatan sekresi GH akan merangsang hepar untuk meningkatkan sekresi IGF-I. Growth hormone mengatur pertumbuhan tulang dan jaringan extraskeletal dengan mengontrol sekresi IGP-I. Insulin-like growth factor I berperan sebagai regulator pertumbuhan postnatal dengan jalan meningkatkan pertumbuhan skeletal melalui proliferasi chondrocyte dan meningkatkan pertumbuhan jaringan extraskeletal dengan jalan meningkatkan pembelahan sel dan sintesis protein.
Tujuan penelitian ini adalah membuktikan bahwa pembatasan waktu dan jumlah pemberian pakan di bidang perunggasan dapat menghasilkan ayam dengan daging yang berkadar lemak rendah dan berkadar protein tinggi.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan hewan coba ayam pedaging jantan galur Lohman (MB 202 P) sebanyak 48 ekor_ Dua jenis perlakuan yang diberikan adalah (1) jumlah pemberian pakan yang terdiri dan dua variasi yaitu jumlah pakan standar (Ji) dan jumlah pakan 10 % di bawah jumlah standar (J2) (2) waktu pemberian pakan yang terdiri dari tiga variasi yaitu waktu pemberian pakan satu kali sehari (Wi), waktu pemberian pakan dua kali sehari (W2) dan waktu pemberian pakan tiga kali sehari (WI). Setiap perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 8 kali sehingga pola faktorial dapat digambarkan dengan (2 x 3) x 8. Perlakuan diberikan selama 20 hari mulai umur 15 — 34 hari. Pada akhir penelitian yaitu hari ke 35 pukul 06.00 WIB sampel darah diambil dan vena hrachiatis sebanyak 5 cc untuk pemeriksaan kadar GH dan Rif-I dengan Elisa kemudian ayam ditimbang untuk mengetahui berat badan akhir dan dipotong untuk dilakukan pemeriksaan karkas dan lemak abdominal Sampel daging paha, dada dan punggung diambil masing-masing 5 g untuk permeriksaan kadar lemak dengan metode Sozhlet dan protein dengan metode Marcum steel.
Data penelitian kemudian dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) dan bila ada perbedaan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95 %. Analisis menggunakan program komputer SPSS 10,0 for windows_

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembatasan waktu pemberian pakan W2 meningkatkan kadar GH, IGF-f dan protein daging serta menurunkan persentase kadar lemak daging secara nyata (p < 0,05). Pembatasan jumlah pemberian pakan J2 meningkatkan kadar GH, IGF-1 dan protein daging serta menur unkan kadar lemak daging secara nyata (p < 0,05)_ Kombinasi pembatasan waktu dan jumlah pemberian pakan W2J2 menyebabkan peningkatan kadar GH dan IGF-I yang berbeda nyata ( p < 0,05) dengan perlakuan lain. Perlakuan W2.I2 menyebabkan sekresi GH dan IGF-I yang paling optimal sehingga terjadi peningkatan kadar protein daging dan penurunan kadar lemak daging. Kombinasi pembatasan waktu dan jumlah pemberian pakan W2J2 menimbulkan rangsangan sintesis dan sekresi GH dari sel somalotropes paling kuat diduga karena adanya peningkatan GHRH. Peningkatan GH akan menimbulkan efek metabolik secara tidak langsung dengan meningkatkan IGF-f sehingga terjadi peningkatan sintesis protein otot dan pertumbuhan janngan extraskeletal seperti otot, sedangkan efek secara langsung adalah meningkatnya penggunan sumber energi dari lemak melalui proses lipolisis dengan akibat menurunnya lemak daging. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembatasan waktu pemberian pakan dua kali sehari dengan jumlah pakan 10 % di bawah jumlah pakan standar menyebabkan peningkatan sekresi GH dan IGF-1 sehingga terjadi peningkatan kadar protein daging dan penurunan kadar lemak daging ayam pedaging. Untuk itu disarankan pemberian pakan pada ayam pedaging sebaiknya dua kali sehari dengan jumlah 10 %di bawah jumlah pakan standar agar diperoleh daging berkualitas tinggi.